Selasa, 02 Juni 2015

Psikologi Pendidikan : Prestasi Belajar






           Pada umumnya setiap peserta didik ingin meraih keberhasilan dan kesuksesan dimasa yang akan datang setelah mereka tamat dari bangku sekolah. Untuk meraih keberhasilan itu maka dibutuhkan evaluasi dan prestasi yang baik, sebab tanpa adanya evaluasi, tidak akan ada prestasi atau dengan kata lain, prestasi siswa tidak diketahui secara mudah. Masalah-masalah rumit yang dialami oleh peserta didik, seringkali dan bahkan hampir semua sebenarnya berasal dari sistem yang diterapkan dalam evaluasi. Mereka biasanya selalu dihadapkan pada ranah kognitif saja, yang dimaksudkan untuk mendapatkan nilai, evaluasi ini lebih cenderung kepada kuantitatif. Dengan kemampuan berpikir dan menilai, peserta didik seringkali dinilai dalam bentuk kualitatif yang bersifat subjektif.

A.    Pengertian prestasi belajar

Dalam proses belajar mengajar dikelas untuk mengetahui berhasil atau tidaknya pembelajaran yang dicapai siswa harus dilakukan evaluasi yang hasilnya berupa prestasi belajar siswa. Kata prestasi belajar terdiri dari dua suku kata, yaitu ‘prestasi’ dan ‘belajar’. Di dalam kamus besar bahasa indonesia, yang dimaksud dengan presatasi adalah: .hasil yang telah dicapai (dilakukan, dikerjakan, dan sebagainya) (gepdikbud, 2002:895). Adapun belajar menurut pengertian secara psikologis, adalah merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan-perubahan tersebut akan nyata dalam seluruh aspek tingkah laku. Menurut slameto pengertian belajar dapat didefinisikan sebagai berikut: .belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya (slameto, 2003:2).
M. Ngalim purwanto dalam bukunya psikologi pendidikan, mengemukakan bahwa belajar adalah tingkah laku yang mengalami perubahan karena belajar menyangkut berbagai aspek kepribadian, baik fisik maupun psikis, seperti: perubahan dalam pengertian, pemecahan suatu masalah atau berpikir, keterampilan, kecakapan, kebiasaan, ataupun sikap (purwanto, 2003: 85). Dalam rumusan h. Spears yang dikutip oleh dewa ketut sukardi mengemukakan bahwa belajar itu mencakup berbagai macam perbuatan mulai dari mengamati, membaca, menurun, mencoba sampai mendengarkan untuk mencapai suatu tujuan (sukardi, 1983:17). Selanjutnya, definisi belajar yang diungkapkan oleh cronbach di dalam bukunya educational psychology yang dikutip oleh sumardi suryabrata menyatakan bahwa: belajar yang sebaik-baiknya adalah dengan mengalami; dan dalam mengalami itu si pelajar mempergunakan pancainderanya (suryabrata, 2002:231).
 Nana sudjana (2005:22) dalam bukunya berpendapat bahwa “hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya.” Prestasi belajar berasal dari kata “prestasi” dan “belajar”. Menurut kamus ilmiah populer (2002:594) prestasi merupakan hasil yang telah dicapai. Berdasarkan pendapat tersebut, disimpulkan bahwa prestasi belajar merupakan hasil belajar yang dicapai oleh siswa dalam penguasaan pengetahuan dan keterampilan suatu mata pelajaran tertentu sesuai dengan tujuan yang diinginkan.
Dalam kamus besar bahasa indonesia (2002: 895) prestasi adalah hasil yang telah dicapai atau dilakukan,dikerjakan,dan sebagainya. Belajar adalah proses penting bagi perubahan perilaku manusia dan ia mencakup segala sesuatu yang dipikirkan dan dikerjakan. Belajar memegang peranan penting di dalam perkembangan, kebiasaan, sikap, keyakinan, tujuan, kepribadian dan persepsi manusi (catharina, 2004: 4). Belajar adalah merupakan suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat, akan tetapi lebih luas daripada itu, yaitu mengalami. Hasil belajar bukan suatu penguasaan hasil latihan, melainkan perubahan kelakuan (hamalik, 2001: 36). Menurut sumadi (1998: 7) prestasi belajar adalah merupakan ukuran keberhasilan belajar paling luas dipakai dalam penelitian. Pada umumnya prestasi belajar terdapat pada buku raport setelah siswa melakukan aktivitas belajar di sekolah dalam kurun waktu tertentu, seperti catur wulan atau semester. Dengan prestasi belajar maka guru, siswa dan orang tua akan mengetahui hasil yang dicapai dalam pembelajaran atau pendidikan.
Berdasarkan definisi yang dikemukakan beberapa tokoh di atas, maka penulis dapat mengambil suatu kesimpulan, bahwa belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku yang merupakan sebagai akibatdari pengalaman atau latihan. Sedangkan pengertian prestasi belajar sebagaimana yang tercantum dalam kamus besar bahasa indonesia adalah: ‘penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya ditunjukan dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan oleh guru..39 prestasi belajar dapat bersifat tetap dalam serjarah kehidupan manusia karena sepanjang kehidupannya selalu mengejar prestasi menurut bidang dan kemampuan masing-masing. Prestasi belajar dapat memberikan kepuasan kepada orang yang bersangkutan, khususnya orang yang sedang menuntut ilmu di sekolah.


B.     Fungsi dan kegunaan prestasi belajar

Untuk mengetahui seberapa jauh prestasi belajar telah dicapai peserta didik, maka diadakan kegiatan evaluasi pembelajaran. Evaluasi pembelajaran merupakan kegiatan yang dilakukan secara sistematis dengan mengumpulkan bukti-bukti untuk menentukan keberhasilan belajar. Oemar hamalik (2001:159) dalam bukunya menyatakan tentang evaluasi hasil belajar merupakan:
Keseluruhan kegiatan pengukuran (pengumpulan data dan informasi), pengolahan, penafsiran, dan pertimbangan untuk membuat keputusan tentang tingkat hasil belajar yang dicapai oleh siswa setelah melakukan kegiatan dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Hasil belajar menunjuk kepada prestasi belajar, sedangkan prestasi belajar itu merupakan indikator adanya dan derajat perubahan tingkah laku.
Tujuan diadakannya kegiatan evaluasi adalah untuk mengetahui keefektifan dan keberhasilan kegiatan belajar mengajar sehingga dalam pelaksanaannya evaluasi harus dilakukan secara terus-menerus baik itu pada awal, pada saat berlangsungnya kegiatan belajar mengajar maupun pada akhir tatap muka kegiatan belajar mengajar. Evaluasi pada umumnya digunakan untuk menilai dan mengukur hasil belajar peserta didik, terutama hasil yang berkenaan dengan penguasaan bahan pengajaran sesuai dengan tujuan pendidikan dan pengajaran. Zainal arifin (1991:2) mengemukakan fungsi utama prestasi belajar antara lain:
1.      Prestasi belajar sebagai indikator kualitas dan kualitas pengetahuan yang telah dikuasai anak didik.
2.      Prestasi belajar sebagai lambang pemuasan hasrat ingin tahu.
3.      Prestasi belajar sebagai bahan informasi dalam inovasi pendidikan.
4.      Prestasi belajar sebagai indikator intern dan ekstern dari suatu institusi pendidikan.
5.      Prestasi belajar dapat dijadikan indikator terhadap daya serap (kecerdasan) anak didik.
Berdasarkan pendapat tersebut, maka dapat diketahui bahwa betapa pentingnya mengetahui prestasi belajar siswa, baik individual maupun kelompok karena prestasi belajar tidak hanya sebagai indikator keberhasilan, dan juga berguna bagi guru yang bersangkutan sebagai umpan balik dalam melaksanakan pembelajaran dikelas apakah akan diadakan perbaikan dalam proses belajar mengajar ataupun tidak.

C.     Evaluasi prestasi belajar
1.      Evaluasi Prestasi Belajar
Definisi Evaluasi
Ialah penilaian terhadap tingkat keberhasilan siswa mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam sebuah program.[1] Padanan kata evaluasi adalah Assessment yang menurut Tardif (1989) berarti proses penilaian untuk menggambarkan prestasi yang dicapai seorang siswa sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. Selain kata evaluasi dan assessment, ada pula kata lain yang sama arti dan relatif lebih mahsyur dalam dunia pendidikan yakni kata tes, ujian, dan ulangan.[2]

Prestasi belajar meliputi segenap ranah kejiwaan yang berubah sebagai akibat dari pengalaman dan proses belajar siswa yang bersangkutan. Prestasi belajar dapat dinilai dengan cara:
Penilaian formatif. Penilaian formatif adalah kegiatan penilaian yang bertujuan untuk mencari umpan balik (feedback), yang selanjutnya hasil penilaian tersebut dapat digunakan untuk memperbaiki proses belajar-mengajar yang sedang atau yang sudah dilaksanakan.
Penilaian sumatif. Penilaian sumatif adalah penilaian yang dilakukan untuk memperoleh data atau informasi sampai dimana penguasaan atau pencapaian belajar siswa terhadap bahan pelajaran yang telah dipelajarinya selama jangka waktu tertentu (purwanto, 2001:26).
Evaluasi terhadap penilaian hasil dan proses belajar bertujuan untuk mengetahui ketuntasan peserta didik dalam menguasai kompetensi dasar yang telah ditetapkan.
Menurut Muhibbin Syah (2006 : 197) tujuan evaluasi adalah sebagai berikut
a. Untuk mengetahui tingkat kemajuan yang telah diketahui siswa dalam kurun waktu proses belajar tertentu. Sehingga guru dapat mengetahui kemajuan perubahan tingkah  laku siswa sebagai hasil proses pembelajaran
b. Untuk mengetahui posisi atau kedudukan siswa dalam kelompok kelasnya. posisi yang dimaksud adalah mutu kemampuan yang dimiliki siswa di kelas jika dibandingkan dengan teman – temen lainnya.
c. Untuk mengetahui tingkat usaha yang dilakukan siswa dalam belajar. Maka dengan evaluasi guru dapat mengetahui usaha yang dilakukan siswa apakah efisien atau tidak dalam usaha mencapai prestasi.
d. Untuk mengetahui sejauh mana siswa telah mendayagunakan kemampuan dan kecerdasan yang dimiliki untuk keperluan belajar dalam usaha mencapai prestasi belajar
e. Untuk mengetahui keefektifan metode mengajar yang telah digunakan guru dalam proses belajar mengajar.

2.      Fungsi Evaluasi

a. Fungsi administrasi untuk penyusunan daftar nilai dan pengisian buku rapor.
b. Fungsi promosi untuk menetapkan kenaikan atau kelulusan.
c. Fungsi diagnostik untuk mengidentifikasi kesulitan belajar siswa dan adanya perencanaan program remedial teaching (pengajaran perbaikan).
d. Fungsi BK untuk pasokan siswa yang memerlukan BK.
e. Fungsi bahan pertimbangan kurikulum, metode dan alat-alat proses belajar-mengajar.

3.      Tujuan dan Prinsip Evaluasi Belajar
a.       Tujuan dan Fungsi Evaluasi
Biasanya evaluasi untuk secara kuantitatif maupun kualitatif, namun pada hakikatnya hanya cenderung bersifat kuantitatif, karena penggunaan angka dianggap menentukan kualitas akademik dianggap nisbi.
                                     I.      Tujuan
1.      Untuk mengetahui tingkat kemampuan yang telah dicapai oleh siswa dalam suatu kurun waktu proses belajar tertentu.
2.      Untuk mengetahui posisi atau kedudukan seorang siswa dalam kelompok kelasnya.
3.      Untuk mengetahui tingkat usaha yang dilakukan siswa dalam belajar.
4.      Untuk mengetahui segala upaya siswa dalam mendayagunakan kapasitas kognitifnya untuk keperluan belajar.
5.      Untuk mengetahui tingkat daya guna dan hasil guna metode mengajar yang telah digunakan guru dalam proses belajar -mengajar.

Berdasarkan UU Sikdiknas No. 20 Tahun 2003 Pasal 58 ayat 1, evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil peserta didik secara berkesinambungan. Evaluasi bukan hanya saat ulangan, namun pada setiap saat.

                                  II.      Fungsi Evaluasi
a.       Fungsi administrasi untuk penyusunan daftar nilai dan pengisian buku rapor.
b.      Fungsi promosi untuk menetapkan kenaikan atau kelulusan.
c.       Fungsi diagnostik untuk mengidentifikasi kesulitan belajar siswa dan adanya perencanaan program remedial teaching (pengajaran perbaikan).
d.      Fungsi BK untuk pasokan siswa yang memerlukan BK.
e.       Fungsi bahan pertimbangan kurikulum, metode dan alat-alat proses belajar-mengajar.\
b.      Prinsip-Prinsip Evaluasi Belajar
Menurut Wiyono dan Tumardi (2003:8—10), prinsip-prinsip evaluasi pembelajaran adalah sebagai berikut.
1)      Komprehensif
Kegiatan evaluasi pembelajaran hendaknya dilaksanakan secara komprehensif, artinya mencakup seluruh aspek pribadi siswa, baik aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Ditinjau dari pelaksanaannya, kegiatan evaluasi pembelajaran juga harus dilakukan secara menyeluruh, baik evaluasi proses maupun hasil belajar siswa.
2)      Mengacu pada Tujuan
Pelaksanaan evaluasi pembelajaran juga harus mengacu pada tujuan pembelajaran yang ditetapkan. Tujuan merupakan kriteria utama yang menentukan arah kegiatan evaluasi. Sasaran kegiatan evaluasi adalah untuk melihat tercapai tidaknya pelaksanaan kegiatan pembelajaran. Untuk itu, tujuan pembelajaran merupakan landasan utama yang dijadikan patokan dalam melaksanakan evaluasi pembelajaran.
3)      Objektif
Kegiatan evaluasi pembelajaran juga harus dilaksanakan secara objektif. Artinya, evaluasi yang dilaksanakan memang benar-benar sesuai dengan kenyataan yang ada. Apabila hasil evaluasi pembelajaran yang diperoleh siswa tertentu adalah A, maka apabila dievaluasi oleh pendidik lain juga memperoleh nilai A.
4)      Kooperatif
Dalam melaksanakan evaluasi pembelajaran, juga harus bekerja sama dengan semua pihak yang terlibat dalam kegiatan evaluasi. Pihak-pihak tersebut bisa guru, petugas bimbingan, orang tua, wali kelas, tenaga administrasi, kepala sekolah, atau bahkan siswa sendiri.
5)      Kontinuitas
Evaluasi pembelajaran juga harus dilaksanakan secara terus-menerus atau berkesinambungan selama proses pelaksanaan pembelajaran. Evaluasi pembelajaran tidak hanya ditujukan pada hasil akhir yang dicapai, melainkan harus dilakukan sejak penyusunan rencana sampai tahap pelaporan akhir, bahkan sampai tindak lanjut. Dengan demikian, kegiatan evaluasi pembelajaran merupakan suatu proses yang harus dilaksanakan secara kontinu.
6)      Praktis, Ekonomis, dan Mendidik
Prinsip selanjutnya yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan evaluasi pembelajaran adalah prinsip praktis, ekonomis, dan bersifat mendidik. Evaluasi pembelajaran yang baik harus mudah dilaksanakan, rendah biaya, waktu dan tenaga, dan bisa mencapai tujuan secara optimal. Kegiatan evaluasi pembelajaran juga harus bisa memberikan motivasi kepada siswa untuk meningkatkan prestasi belajarnya.
c.       Ragam Evaluasi
1.      Pre test dan post test.
2.      Evaluasi prasyarat.
3.      Evaluasi diagnostik.
4.      Evaluasi formatif.
5.      Evaluasi sumatif.
6.      UAN/UN.
d.      Syarat dan Ragam Alat Evaluasi
a.       Syarat Alat Evaluasi
1.      Reabilitas.
Tahan uji dan dapat dipercaya, serta konsisten terhadap hasil.
2.      Validasi.
Keabhasan, maksudnya megukur sesuai dengan konteks pembelajaran (eksakta atau sosial).
b.      Ragam Alat Evaluasi
1.      Bentuk objektif.
a.       Tes benar-salah.
b.      Tes pilihan berganda.
c.       Tes pencocokan (menjodohkan).
d.      Tes isian.
e.       Tes pelengkapan (melengkapi).
2.      Bentuk subjektif.
Biasanya menggunakan tes essai, yang dianggap lebih memungkinkan untuk penilaian subjektif.


D.      Macam – Macam Evaluasi Belajar
A.    Macam-macam evaluasi berdasarkan tujuan dibedakan atas lima jenis evaluasi :
1.      Evaluasi diagnostik
Evaluasi diagnostik adalah evaluasi yang di tujukan untuk menelaah kelemahan-kelemahan siswa beserta faktor-faktor penyebabnya.
2.      Evaluasi selektif
Evaluasi selektif adalah evaluasi yang di gunakan untuk memilih siwa yang paling tepat sesuai dengan kriteria program kegiatan tertentu.
3.      Evaluasi penempatan
Evaluasi penempatan adalah evaluasi yang digunakan untuk menempatkan siswa dalam program pendidikan tertentu yang sesuai dengan karakteristik siswa.
4.      Evaluasi formatif
Evaluasi formatif adalah evaluasi yang dilaksanakan untuk memperbaiki dan meningkatan proses belajar dan mengajar.
5.      Evaluasi sumatif
Evaluasi sumatif adalah evaluasi yang dilakukan untuk menentukan hasil dan kemajuan bekajra siswa.

B.     Macam- macam evaluasi berdasarkan sasaran :
1.      Evaluasi konteks
Evaluasi yang ditujukan untuk mengukur konteks program baik mengenai rasional
tujuan, latar belakang program, maupun kebutuhan-kebutuhan yang muncul dalam perencanaan.
2.      Evaluasi input
Evaluasi yang diarahkan untuk mengetahui input baik sumber daya maupun strategi
yang digunakan untuk mencapai tujuan.
3.      Evaluasi proses
Evaluasi yang di tujukan untuk melihat proses pelaksanaan, baik mengenai
kalancaran proses, kesesuaian dengan rencana, faktor pendukung dan
faktor hambatan yang muncul dalam proses pelaksanaan, dan sejenisnya.
4.      Evaluasi hasil atau produk
Evaluasi yang diarahkan untuk melihat hasil program yang dicapai sebagai dasar
untuk menentukan keputusan akhir, diperbaiki, dimodifikasi, ditingkatkan
atau dihentikan.
5.      Evaluasi outcom atau lulusan
Evaluasi yang diarahkan untuk melihat hasil belajar siswa lebih lanjut, yakni evaluasi lulusan setelah terjun ke masyarakat.

C.     Macam-macam evalusi berdasarkan lingkup kegiatan pembelajaran :
1.      Evaluasi program pembelajaran
Evaluasi yang mencakup terhadap tujuan pembelajaran, isi program pembelajaran, strategi belajar mengajar, aspe-aspek program pembelajaran yang lain.
2.      Evaluasi proses pembelajaran
Evaluasi yang mencakup kesesuaian antara peoses pembelajaran dengan garis-garis besar program pembelajaran yang di tetapkan, kemampuan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran, kemampuan siswa dalam mengikuti proses
pembelajaran.
3.      Evaluasi hasil pembelajaran
Evaluasi hasil belajar mencakup tingkat penguasaan siswa terhadap tujuan pembelajaran yang ditetapkan, baik umum maupun khusus, ditinjau dalam aspek kognitif, afektif, psikomotorik.Jenis evaluasi berdasarkan objek dan
subjek evaluasi.

D.    Berdasarkan objek :
1.      Evaluasi input
Evaluasi terhadap siswa mencakup kemampuan kepribadian, sikap, keyakinan.
2.      Evaluasi tnsformasi
Evaluasi terhadap unsur-unsur transformasi proses pembelajaran anatara lain
materi, media, metode dan lain-lain.
3.      Evaluasi output
Evaluasi terhadap lulusan yang mengacu pada ketercapaian hasil pembelajaran.

E.     Berdasarkan subjek :
1.      Evaluasi internal
Evaluasi yang dilakukan oleh orang dalam sekolah sebagai evaluator, misalnya guru.
2.      Evaluasi eksternal
Evaluasi yang dilakukan oleh orang luar sekolah sebagai evaluator,misalnya orangtua, masyarakat.

5. Kelebihan dan Kelemahan Test Objektif dan Essay
A.    Test Objektif
Tes objektif adalah tes yang dalam pemeriksaannya dapat dilakukan secara objektif. Hal ini dimaksudkan untuk mengatasi kelemahan-kelemahan dari tes bentuk essai (Arikunto, 2003:164).
Tes objektif menuntut peserta didik untuk memilih jawaban yang benar diantara kemungkinan jawaban yang telah disediakan, memberikan jawaban singkat, dan melengkapi pertanyaan atau pernyataan yang belum sempurna. Tes objektif sangat cocok untuk menilai kemampuan peserta didik yang muntut proses mental yang tidak begitu tunggi seperti kemampuan mengingat kembali, kemampuan mengenal kembali, pengertian, dan kemampuan mengaplikasikan prinsip-prinsip.
a.       Kelebihan Test Objektif yaitu:
1)      Untuk menjawab test objektif tidak banyak memakai waktu.
2)      Reabilitasnya lebih tinggi kalau di bandingkan dengan test Essay, karena penilainnya bersifat   objektif.
3)      Pemberian nilai dan cara menilai test objektif lebih cepat dan mudah karena tidak menuntut keahlian khusus dari pada si pemberi nilai.
4)      Objektif test tidak memperdulikan penguasaan bahasa, sehingga mudah dilaksanakan.
5)      Validity test objektif lebih tinggi dari essay test, karena samplingnya lebih luas.
b.      Kelemahan Test Objektif yaitu :
1)      Murid sering menerka-nerka dalam memberikan jawaban, karena mereka belum menguasai bahan pelajaran tersebut.
2)      Memang test sampling yang diajukan kepada murid- murid cukup banyak, dan hanya membutuhkan waktu yang relative singkat untuk menjawabnya.
3)      Tidak biasa mengajak murid untuk berpikir taraf tinggi.
4)      Banyak memakan biaya, karena lembaran item- item test harus sebanyak jumlah pengikut test.

Tes objektif  ini terdiri dariberbagai macam bentuk, antara lain ;
1.      SALAH- BENAR atau True- False (T- F)
Bentuk tes benar salah memiliki soal yang berupa statemen. Statemen tersebut dapat disusun sedemikian rupa, ada yang benar dan ada yang salah.
a.       Kelebihan S - B yaitu :
1)      Soal ini baik untuk hasil- hasil, dimana hanya ada dua alternative jawaban.
2)      Tuntutan kurang ditekankan pada kemampuan baca.
3)      Tidak begitu sulit menentukan jawaban pengecoh.
4)      Pembuatan soal relative lebih mudah karena hanya mengarah pada 2 option jawaban.
5)      Tidak perlu membuat jawaban pengecoh.
6)      Soal tidak menggunakan pernyataan yang berarti ganda/lebih.
7)      Soal tidak bergantung pada jawaban soal lain.
8)      Soal terhindar dari pernyataan yang tidak perlu.
9)      Tidak membosankan siswa karena pilihan jawaban sedikit.
10)  Tepat untuk mengukur kemampuan kognitif (ingatan).
11)  Sejumlah soal relative dapat dijawab dalam tipe test secara berkala.
12)  Penilaian mudah, objektif dan dapat dipercaya.
b.      Kelemahan S - B yaitu :
1)         Sulit menuliskan soal diluar tingkat pengetahuan yang bebas dari maksud ganda.
2)         Jawaban soal tidak memberikan bukti bahwa siswa mengetahui dengan baik.
3)         Tidak bisa untuk mengukur kemampuan analisa.
4)         Kurang cocok untuk soal hitungan.
5)         Soal kurang bervariasi.
6)         Tidak ada informasi diagnostic dari jawaban yang salah.
7)         Memungkinkan dan mendorong siswa untuk menerka-nerka.
2.      PILIHAN BERGANDA atau Multiple Choise ( M- Ch)
Tes pilihan ganda merupakan tes yang menggunakan pengertian/ pernyataan yang belum lengkap dan untuk melengkapinya maka kita harus memilih satu dari beberapa kemungkinan jawaban benar yang telah disiapkan. Tes pilihan ganda adalah bentuk test yang mempunyai satu jawaban yang benar atau paling tepat.
a.       Kelebihan Pilihan Berganda yaitu:
1)         Hasil belajar yang sederhana sampai yang komplek dapat diukur.
2)         Terstruktur dan petunjuknya jelas.
3)         Alternatif jawaban yang salah dapat memberikan informasi diagnostik.
4)         Tidak dimungkinkan untuk menerka jawaban.
5)         Dapat diaplikasikan dengan komputer baik penampilan soal dan perhitungan nilainya, interaktif
6)         Dapat menggunakan rumus singkat
7)         Semua indikator dapat terwakili
8)         Pokok soal dirumuskan dengan singkat, jelas dan tegas
9)         Materi yang ditanyakan jelas arahnya
10)     Soal tidak bergantung pada jawaban soal sebelumnya
11)     Penilaian mudah, objektif dan dapat dipercaya.
b.      Kelemahan Pilihan Berganda yaitu:
1)        Menyusunnya membutuhkan waktu yang lama.
2)        Sulit menemukan pengacau.
3)        Kurang efektif mengukur beberapa tipe pemecahan masalah, kemampuan untuk mengorganisir dan mengekspresikan ide.
4)        Kurang menggambarkan sebuah proses
5)        Tingkat kemampuan yang terukur sangat terbatas
6)        Jumlah soal harus banyak agar dapat mewakili semua materi yang telah dipelajari
7)        Nilai dapat dipengaruhi dengan kemampuan baca.
3.      ISIAN atau Completion
Tes isian terdiri dari kalimat yang dihilangkan (diberi titik-titik). Bagian yang dihilangkan ini yang diisi oleh peserta tes merupakan pengertian yang diminta agar pernyataan yang dibuat menjadi pernyataan yang benar.
a.       Kelebihan Isian atau Completion yaitu :
1)        Sangat mudah dalam penyusunannya.
2)        Lebih menghemat tempat ( menghemat kertas ).
3)        Persyaratan komprehensif dapat dipenuhi oleh test model ini.
4)        Digunakan untuk mengukur berbagai taraf kompetensi dan tidak sekedar mengungkap taraf pengenalan atau hafalan saja.
b.      Kelemahan Isian atau Completion yaitu :
1)        Lebih cenderung mengungkap daya ingat atau aspek hafalan saja.
2)        Butir- butir item dari test model ini kurang relevan untuk diajukan.
3)        Tester kurang berhati-hati dalam menyusun kalimat dalam soal.
4.      JAWABAN SINGKAT atau SHORT ANSWER
Bentuk tes jawaban singkat ini menghendaki jawaban dengan kalimat dan atau angka-angka yang hanya dapat dinilai benar atau salah. Soal bentuk jawaban singkat biasanya dekemukakan dalam bentuk pertanyaan. Dengan kata lain, item tersebut berupa suatu kelimat bertanya yang dapat dijawab dengan singkat.
a.       Kelebihan Jawaban Singkat yaitu :
1)        Mudah dalam perbuatan
2)        Kemungknan menebak jawaban sangat sulit
3)        Cocok untuk soal- soal hitungan
4)        Hasil- hasil pengetahuan dapat diukur secara luas.
b.      Kelemahan Jawaban Singkat yaitu:
1)        Sulit menyusun kata- kata yang jawabannya hanya satu.
2)        Tidak cocok untuk mengukur hasil- hasil belajar yang komplek.
3)        Penilaian menjemukan da memerlukan waktu banyak.
5.      MENJODOHKAN atau MATCHING
Soal menjodohkan sebenarnya masih merupakan pilihan ganda. Perbedaanya adalah pilihan ganda terdiri atas item dan option, kemudian testi tinggal memilih salah satu option yang diberikan. Sedangkan bentuk menjodohkan terdiri atas kumpulan soal dan kumpulan jawaban yang keduanya dikumpulkan pada dua kolom yang berbeda. Kolom sebelah kiri menunjukan kumpulan soal, dan kolom sebelah kanan menunjukan kumpulan jawaban. Jumlah alternatif jawaban harus dibuat lebih banyak daripada soal.
a.       Kelebihan Menjodohkan yaitu:
1)        Suatu bentuk yang efisien diberikan dimana sekelompok respon sama menyesuaikan dengan rangkaian isi soal.
2)        Waktu membaca dan merespon relative singkat.
3)        Mudah untuk dibuat.
4)        Mudah dalam pengoreksian.
5)        Memudahkan siswa menjawab soal karena jawaban sudah tersedia.
6)        Praktis penggunaaannya.
7)        Mudah penulisan soalnya.
8)        Dapat memotivasi daya ingat siswa.
9)        Tidak diperlukan pengecoh yang banyak.
10)    Penilaian mudah, objektif dan dapat dipercaya.
b.      Kelemahan Menjodohkan yaitu:
1)         Materi soal dibatasi oleh faktor ingatan/ pengetahuan yang sederhana dan kurang dapat dipakai untuk mengukur penguasaan yang bersifat pengertian dan kemampuan membuat tafsiran.
2)         Sulit menyusun soal yang mengandung sejumlah respon yang homogen.
3)         Terlalu banyak jawaban yang harus dipilih.
4)         Sulit mencari pasangan-pasangan yang relevan dengan soal.
5)         Hanya mengukur materi yang bersifat hapalan/recall.
6)         Bila yang belum terjawab tinggal sedikit dapat ditebak.
7)         Siswa tidak bisa memecahkan masalah yang lebih sulit.
8)         Tidak melatih anak untuk berfikir kritis.
9)         Pengecoh jawaban tidak bervariasi.
10)     Tidak dapat mengembangkan daya fikir siswa.
11)     Memungkinkan siswa menjawab berspekulasi/untung-untungan.
12)     Mudah terpengaruh dengan petunjuk yang tidak relevan.

B.     Test Essay
Tes Essay adalah tes yang disusun dalam bentuk pertanyaan terstruktur dan siswa menyusun, mengorganisasikan sendiri jawaban tiap pertanyaan itu dengan bahasa sendiri. Tes essay ini sangat bermanfaat untuk mengembangkan kemampuan dalam menjelaskan atau mengungkapkan suatu pendapat dalam bahasa sendiri.
Subino, (1987:2) menyatakan bahwa berdasarkan tingkat kebebasan jawaban yang dimungkinkan dalam tes bentuk uraian, butir-butir soal dalam ini dapat dibedakan atas butir-butir soal yang menuntut jawaban bebas. Butir-butir soal dengan jawaban terikat cenderung akan membatasi, baik isi maupun bentuk jawaban; sedangkan butir soal dengan jawaban bebas cenderung tidak membatasi, baik isi maupun jawaban.
Tes uraian merupakan tes yang tertua, namun bentuk ini masih digunakan secara luas di Amerika Serikat hingga kini, bahkan merupakan bentuk soal yang yang juga masih digunakan secara luas di bagian-bagian dunia lainnya.

a.         Kelebihan Test Essay yaitu:
1)        Peserta didik dapat mengorganisasikan jawaban dengan pendapatnya sendiri.
2)        Murid tidak dapat menerka- nerka jawaban soal.
3)        Test ini sangat cocok untuk mengukur dan mengevaluasi hasil suatu proses belajar yang kompleks yang sukar diukur dengan mempergunakan test objektif.
4)        Derajat ketepatan dan kebenaran murid dapat dilihat dari kalimat- kalimatnya.
5)        Jawaban diungkapakan dalam kata- kata dan kalimat sendiri, sehingga test ini dapat digunakan untuk melatih penyusunan kalimat dengan bahasa yang baik, benar, dan cepat.
6)        Test ini digunakan dapat melatih peserta didik untuk memilih fakta yang relevan dengan persoalan, dan Sukar dinilai secara tepat mengorganisasikannya sehingga dapat mengungkapkan satu hasil pemikiran yang terintegrasi secara utuh.
b.        Kelemahan Test Essay yaitu:
1)        Sukar dinilai secara tepat.
2)        Bahan yang diukur terlalu sedikit, sehingga agak sulit untuk mengukur penguasaan siswa terhadap keseluruhan kurikulum.
3)        Sulit mendapatkan soal yang memiliki standar nasional maupun internasional.
4)        Membutuhkan waktu memeriksa hasilnya.

E.    Jenis-jenis prestasi belajar

Pada prinsipnya, pengungkapan hasil belajar ideal meliputi segenap ranah psikologis yang berubah sebagai akibat pengalaman dan proses belajar siswa. Yang dapat dilakukan guru dalam hal ini adalah mengambil cuplikan perubahan tingkah laku yang dianggap penting yang dapat mencerminkan perubahan yang terjadi sebagai hasil belajar siswa, baik yang berdimensi cipta dan rasa maupun karsa. Kunci pokok untuk memperoleh ukuran dan data hasil belajar siswa adalah mengetahui garis-garis besar indikator (penunjuk adanya prestasi belajar) dikaitkan dengan jenis-jenis prestasi yang hendak diukur (muhibbin syah, 1999:150.
Dalam sebuah situs yang membahas taksonomi bloom, dikemukakan mengenai teori bloom yang menyatakan bahwa, tujuan belajar siswa diarahkan untuk mencapai ketiga ranah. Ketiga ranah tersebut adalah ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Dalam proses kegiatan belajar mengajar, maka melalui ketiga ranah ini pula akan terlihat tingkat keberhasilan siswa dalam menerima hasil pembelajaran atau  ketercapaian siswa dalam penerimaan pembelajaran. Dengan kata lain, prestasi belajar akan terukur melalui ketercapaian siswa dalam penguasaan
Ketiga ranah tersebut. Maka untuk lebih spesifiknya, penulis akan akan menguraikan ketiga ranah kognitif, afektif dan psikomotorik sebagai yang terdapat dalam teori bloom berikut:

1.     Cognitive domain (ranah kognitif)
Cognitive domain berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek intelektual, seperti pengetahuan, pengertian, dan keterampilan berpikir. Bloom membagi domain kognisi ke dalam 6 tingkatan. Domain ini terdiri dari dua bagian: bagian pertama adalah berupa pengetahuan (kategori 1) dan bagian kedua berupa kemampuan dan keterampilan intelektual (kategori 2-6).
Pengetahuan (knowledge). Berisikan kemampuan untuk mengenali dan mengingat peristilahan, definisi, fakta-fakta, gagasan, pola, urutan, metodologi, prinsip dasar dan sebagainya. Pengetahuan juga diartikan sebagai kemampuan mengingat akan hal-hal yang pernah dipelajaridan disimpan dalam ingatan (winkel, 1996:247).
Pemahaman (comprehension).pemahaman didefinisikan sebagai kemampuan untuk menangkap makna dan arti yang dari bahan yang dipelajari (winkel, 1996:247). Pemahaman juga dikenali dari kemampuan untuk membaca dan memahami gambaran, laporan, tabel, diagram, arahan, peraturan, dan sebagainya.
Aplikasi (application). Aplikasi atau penerapan diartikansebagai kemampuan untuk menerapkan suatu kaidah atau metode bekerja pada suatu kasus atau problem yang konkret dan baru (winkel, 1996:247). Di tingkat ini, seseorang memiliki kemampuan untuk menerapkan gagasan, prosedur, metode, rumus, teori, dan sebagainya di dalam kondisi kerja.
Analisis (analysis). Analisis didefinisikan sebagai kemampuan untuk merinci suatu kesatuan ke dalam bagian-bagian, sehingga struktur keseluruhan atau organisasinya dapat dipahami dengan baik. Di tingkat analisis, seseorang akan mampu menganalisa informasi yang masuk dan membagi-bagi atau menstrukturkan informasi ke dalam bagian yang lebih kecil untuk mengenali pola atau hubungannya, dan mampu mengenali serta membedakan faktor penyebab dan akibat dari sebuah skenario yang rumit.
Sintesis (synthesis). Sintesis diartikan sebagai kemampuan untuk membentuk suatu kesatuan atau pola baru. Sintesis satu tingkat di atas analisa. Seseorang di tingkat sintesa akan mampu menjelaskan struktur atau pola dari sebuah skenario yang sebelumnya tidak terlihat, dan mampu mengenali data atau informasi yang harus didapat untuk menghasilkan solusi yang dibutuhkan.
Evaluasi (evaluation). Evaluasi diartikan sebagai kemampuan untik membentuk suatu pendapat mengenai sesuatu atau beberapa hal, bersama dengan pertanggungjawaban pendapat itu, yang berdasarkan kriteria tertentu. Evaluasi dikenali dari kemampuan untuk memberikan penilaian terhadap solusi, gagasan, metodologi, dengan menggunakan kriteria yang cocok atau standar yang ada untuk memastikan nilai efektivitas atau manfaatnya.

2.     Affective domain (ranah afektif)
Affective domain berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek perasaan dan emosi, seperti minat, sikap, apresiasi, dan cara penyesuaian diri. Tujuan pendidikan ranah afektif adalah hail belajar atau kemampuan yang berhubungan dengan sikap atau afektif. Taksonomi tujuan pendidikan ranah afektif terdiri dari aspek:
Penerimaan (receiving/attending). Penerimaan mencakup kepekaan akan adanya suatu perangsang dan kesediaan untuk memperhatikan rangsangsangan itu, seperti buku pelajaran atau penjelasan yang diberikan oleg guru.
Tanggapan (responding). Memberikan reaksi terhadap fenomena yang ada di lingkungannya. Meliputi persetujuan, kesediaan, dan kepuasan dalam memberikan tanggapan.
Penghargaan (valuing). Penghargaan atau penilaian mencakup kemampuan untuk memberikan penilaian terhadap sesuatu dan membawa diri sesuai dengan penilaianitu.mulai dibentuk suatu sikap menerima,
Menolak atau mengabaikan, sikap itu dinyatakan dalam tingkah laku yang sesuai dengan konsisten dengan sikap batin.
Pengorganisasian (organization). Memadukan nilai-nilai yang berbeda, menyelesaikan konflik di antaranya, dan membentuk suatu sistem nilai yang konsisten. Pengorganisasian juga mencakup kemampuan untuk membentuk suatu sistem nilai sebagai pedoman dan pegangan dalam kehidupan. Nilai- nilai yang diakui dan diterima ditempatkan pada suatu skala nilai mana yang pokok dan selalu harus diperjuangkan, mana yang tidak begitu penting.
Karakterisasi berdasarkan nilai-nilai (characterization by a value or value complex) memiliki sistem nilai yang mengendalikan tingkah-lakunya sehingga menjadi karakteristik gaya-hidupnya (winkel, 1996:248). Karakterisasinya mencakup kemampuan untuk menghayati nilai-nilai kehidupan sedemikin rupa, sehingga menjadi milik pribadi (internalisasi) dan menjadi pegangan nyata dan jelas dalam mengatur kehidupannya sendiri.

3.    Psychomotor domain (ranah psikomotor)
Berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek keterampilan motorik seperti tulisan tangan, mengetik, berenang, dan mengoperasikan mesin. Alisuf sabri dalam buku psikologi pendidikan menjelaskan, keterampilan ini disebut .motorik. Karena keterampilan ini melibatkan secara langsung otot, urat dan persendian, sehingga keterampilan benar-benar berakar pada kejasmanian. Orang yang memiliki keterampiulan motorik, mampu melakukan serangkaian gerakan tubuh dalam urutan tertentu dengan mengadakan koordinasi gerakan-gerakan anggota tubuh secara terpadu. Ciri khas dari keterampilan motorik ini ialah adanya kemampuan otomatisme, yaitu gerakan-gerik yang terjadi berlangsung secara teratur dan berjalan dengan enak, lancar dan luwes tanpa harus disertai pikiran tentang apa yang harus dilakukan dan mengapa hal itu dilakukan. Keterampilan motorik lainnya yang kaitannya dengan pendidikan agama ialah keterampilan membaca dan menulis huruf arab, keterampilan membaca dan melagukan ayat-ayat al-qur.an, keterampilan melaksanakan gerakan-gerakan shalat. Semua jenis keterampilan tersebut diperoleh melalui proses belajar dengan prosedur latihan (sabri, 1996:99-100).

F.     Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar

Kegiatan belajar dilakukan oleh setiap siswa, karena melalui belajar mereka memperoleh pengalaman dari situasi yang dihadapinya. Dengan demikian belajar berhubungan dengan perubahan dalam diri individu sebagai hsil pengalamannya di lingkungan. Secara global, faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa dapat kita bedakan menjadi dua macam:
1.            Faktor internal (faktor dari dalam siswa),
Yakni keadaan atau kondisi jasmani dan rohani siswa, meliputi dua aspek yakni:
Aspek fisiologis. Kondisi umum jasmani dan tonus (tegangan otot) yang menandai tingkat kebugaran organ-organ tubuh dan sendi-sendinya, dapat mempengaruhi semangat dan intensitas siswa dalam mengikuti pelajaran. Kondisi organ tubuh yang lemah dapat menurunkan kualitas ranah cipta (kognitif) sehingga materi yang dipelajarinya pun kurang atau tidak membekas.
Aspek psikologis. Banyak faktor yang termasuk aspek psikologis yang dapat mempengaruhi kuantitas dan kualits perolehan pembelajaran siswa. Namun, di antara faktor-faktor rohaniah siswa yang pada umumnya dipandang lebih esensial itu adalah sebagai berikut:
Tingkat kecerdasan atau intelegensi siswa.
Intelegensi pada umumnya dapat diartikan sebagai kemampuan psiko-fisik untuk mereaksi rangsangan atau menyesuaikan diri dengan lingkungan dengan cara yang tepat. Jadi, intelegensi sebenarnya bukan persoalan otak saja, melainkan juga kualitas organ-organ tubuh lainnya. Akan tetapi, memang harus diakui bahwa peran otak dalam hubungan dengan intelegensi manusia lebih menonjol dari pada peran organ-organ tubuh lainnya, lantaran otak merupakan .menara pengontrol. Hampir seluruh aktifitas manusia. Tingkat kecerdasan atau intelegensi (iq) siswa tak dapat diragukan lagi, sangat menentukan tingkat keberhasilan belajar siswa. Ini bermakna, semakin tinggi kemampuan intelegensi seorang siswa mak semakin besar peluangnya untuk memperoleh sukses.
Sikap siswa.
Sikap adalah gejala internal yang berdimensi afektif berupa kecenderungan untuk mereaksi atau merespon (response tendency) dengan cara yang relatif tetap terhadap objek, orang, barang,dan sebgainya, baik secara positif maupun negatif (syah, 1999:135). Sikap merupakan faktor psikologis yang kan mempengaruhi belajar. Dalam hal ini sikap yang akn menunjang belajar seseorang ialah sikap poitif (menerima) terhadap bahan atau pelajaran yang akan dipelajari, terhadap guru yang mengajar dan terhadap lingkungan tempat dimana ia belajar seperti: kondisi kelas, teman-temannya, sarana pengajaran dan sebagainya (sabri, 1996:84).
Bakat siswa.
Secara umum, bakat adalah kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang. Dengan denikian, sebetulnya setiap orang mempunyai bakat dalam arti berpotensi untuk mencapai prestasi sampai ke tingkat tertentu sesuai dengan kapasitas masing-masing. Jadi, secara global bakat mirip dengan intelegensi. Itulah sebabnya seorang anak yang berintelegensi sangat cerdas (superior) atau cerdas luar bisa (very superior) disebut juga sebagai gifted, yakni anak berbakat intelektual.
Minat siswa.
Secara sederhana minat (interest) berarti kecenderungan dan kegairahan yang tinggi seseorang terhadap sesuatu. Minat dapat mempengaruhi kualits pencapaian hasil belajar siswa dalam bidang-bidang studi tertentu (muhibbin syah, 1999:136).
                        2.     Faktor eksternal (faktor dari luar diri siswa),
Terdiri dari faktor lingkungan dan faktor instrumental sebagai berikut:
Faktor-faktor lingkungan. Faktor lingkungan siswa ini dapat dibagi menjadi dua bagian
a.         Faktor lingkungan alam/non sosial dan faktor lingkungan sosial. Yang termasuk faktor lingkungan non sosial/alami ini ialah seperti: keadaan suhu, kelembaban udara, waktu (pagi, siang, malam), tempat letak gedung sekolah, dan sebagainya. Faktor lingkungan sosial baik berwujud manusia dan representasinya termasuk budayanya akan mempengaruhi proses dan hasil belajar siswa.

b.        Faktor-faktor instrumental. Faktor instrumental ini terdiri dari gedung/sarana fisik kelas.


c.         Sarana/alat pengajaran, media pengajaran, guru dan kurikulum/materi pelajaran serta strategi belajar mengajar yang digunakan akan mempengaruhi proses dan hasil belajar siswa (sabri, 1996:59-60. Dari semua faktor di atas, dalam penelitian kali ini akan diarahkan pada faktor instrumental yang di dalamnya guru profesional itu akan ditunjukan.

Faktor-faktor di atas saling mempengaruhi satu sama lain. Misalnya: seorang siswa yang conserving terhadap ilmu pengetahuan biasanya cenderung mengambil pendekatan yang sederhana dan tidak mendalam. Sebaliknya seorang siswa yang memiliki kemampuan intelegensi yang tinggi (faktor iternal) dan mendapat dorongan positif dari orang tua atau gurunya (faktor eksternal) akan lebih memilih pendekatan belajar yang lebih mementingkan kualitas hasil belajar. Akibat pengaruh faktor-faktor tersebut di atas muncul siswa-siswa yang berprestasi tinggi, rendah atau gagal sama sekali. Dalam hal ini seorang guru yang memiliki kompetensi yang baik dan profesional diharapkan mampu mengantisipasi kemungkinankemungkinan munculnya siswa yang menunjukkan gejala kegagalan dengan berusaha mengetahui dan mengatasi faktor-faktor yang menjadi penghambat proses belajar siswa.

G.      Ayat dan Hadits yang menerangkan tentang prestasi belajar

a.       إِنَّ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱخْتِلَٰفِ ٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ لَءَايَٰتٍۢ لِّأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ ﴿ە۱۹﴾ ٱلَّذِينَ يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَٰمًۭا وَقُعُودًۭا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَٰطِلًۭا سُبْحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ ﴿۱۹۱                   
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya siang dan malam terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang  berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) : Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau   menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.(Q.S. Ali Imran : 190 - 191)

b.      Bertaqwalah kepada Allah dan ikhlaskan niat niscaya Allah akan membukakan pintu pemahaman kepadamu dan akan mengajarkan padamu apa yang belum kamu ketahui serta mempermudahkanmu menuju jalan prestasi. Allah berfirman: 


“……Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”(QS. Al-Baqarah : 282)


“…….Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami." Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.”(QS. Al-Imran: 7)


c.       Rasulullah saw. bersabda,
“Siapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu, niscaya Allah memudahkan baginya jalan menuju surga. Para malaikat meletakkan sayap-sayap mereka kepada penuntut ilmu sebagai ungkapan rasa senang terhadap mereka. Dan seorang yang berilmu pengetahuan akan dimintakan istighfar baginya oleh para makhluk yang ada dilangit dan yang ada dibumi, hingga ikan paus di air. Keutamaan seorang yang berilmu pengetahuan dengan seorang yang ahli ibadah, adalah seperti keutamaan bulan dibandingkan planet-planet yang lain. Para ulama adalah pewaris para nabi. Dan para nabi tidak mewariskan dinar atau dirham, tapi mewarisi ilmu. Maka siapa yang mengambil ilmu itu, niscaya ia telah mendapatkan keberuntungan yang besar.”(HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi)

d.      Tujuan yang paling tinggi bagi pendidik dan pelajar muslim adalah mendirikan agama Allah diatas muka bumi ini, dan bekerja dengan ikhlas bagi-Nya semata. Sesuai dengan firman Allah swt.,

﴾١٦٢إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ﴿ قُلْ 

Katakanlah: "Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam,”(al-An’aam: 162)

Ini adalah tujuan yang mulia yang tak mungkin terwujud kecuali melalui pelajar yang religius, berprestasi, dan disertai komposisi ilmu pengetahuan yang bermanfaat dan terpuji serta dengan didukung oleh fasilitas-fasilitas material yang diperlukanya. Bukan semata dengan semangat fanatik, emosi, dan perasaan saja.

Didapati dengan yakin bahwa prestasi ilmiah (keberhasilan studi) mempunyai beberapa unsur, diantaranya adalah : religiusitas yang aktif, belajar yang tekun dan pandai menggunakan perangkat-perangkat belajar dan fasilitas-fasilitas pendidikan modern.

Melalui prestasi ilmiah akan dihasikan pemimpin di berbagai bidang yang berbeda yang membantu mendirikan agama Allah yang benar dan mendakwahkan agama itu kepada manusia. Kaum muslimin tidak mengalami keterlambatan menjadi guru dunia dalam bidang ilmu pengetahuan kecuali karena mereka meremehkan masalah berpegang pada nilai-nilai akhlak islam dan tidak menerapkan syariat Allah. Mereka telah terbelakang dalam segala hal, kemudian mereka menisbatkan islam sebagai faktor penyebab kemunduran. Padahal, pada hakikatnya ketika mereka menjauh dari islam maka mereka menjadi terbelakang.
e.       Penuntut ilmu mempunyai kedudukan yang mulia dimata islam
Allah telah berfirman:
“….Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakal lah yang dapat menerima pelajaran.’” (QS. Az-Zumar: 9)

f.       Berakhlaklah dengan akhlak yang mulia diantaranya cinta damai, tawadhu, sabar, rajin, bersungguh-sungguh serta berjuang, karena semua itu adalah diantara motif untuk faham, hafal, dan berprestasi. Allah Yang Maha Memberkahi dan Maha Tinggi berfirman dalam konteks memberikan sanjungan kepada Nabi Muhammad saw.:

﴾٤وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ ﴿
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.”(al-Qalam: 4)

g.      Tentukan targetmu, buatlah rancangan pada waktumu, aturlah waktu belajarmu, karena semua ini akan mempersiapkanmu untuk belajar secara produktif. Allah swt. berfirman:
﴾٤٩إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ ﴿)
“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.”(QS. Al-Qamar :49)

h.      Tekunlah belajar, pergunakan teknologi modern sebagai alat bantu guna menjadi pelopor dan pemegang tonggak kepemimpinan. Allah swt. berfirman:
﴾١٢٨إِنَّ اللّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَواْ وَّالَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ ﴿
“Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.”(QS. An-Nahl:128)

Rasulullah saw. Bersabda:

“Allah mencintai seseorang yang apabila ia mengerjakan suatu pekerjaan maka ia mengerjakanya dengan sempurna.”(HR. Baihaqi)

i.        Bergegaslah untuk selalu menghadiri pelajaran, karna ini adalah diantara jalan menuju kesempurnaan dalam memahami kecepatan dalam mengingat, dan ketepatan dalam menjawab soal. Allah Yang Maha Mulia Lagi Maha Agung berfirman sekaligus menjelaskan tujuan dari mempelajari agama dan menghadiri majelis ilmu:

“…Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.”(QS. At-Taubah: 122)
-Rasulullah saw. menjelaskan juga tentang keutamaan majelis ilmu dan majelis Zikir dalam sabda,

“Sesungguhnya sekelompok orang yang duduk dalam majelis zikir karena Allah Yang Maha Mulia Lagi Maha Agung itu mereka akan dinaungi oleh para malaikat, mereka dikaruniai rahmat serta akan turun pada mereka ketentraman. Allah akan menyebut sebagai orang yang berada disisi-Nya.”(HR. Muslim)
“Majelis ilmu itu lebih baik daripada ibadah selama tujuh puluh tahun.”(Muttafaq’alaih)

j.        Kurangi rasa takutmu pada ujian, pertajam semangatmu bertawakallah kepada Allah, perbanyak zikir kepada Allah sekaligus berdo’a , semua ini merupakan diantara faktor kesuksesan didalam ujian. Allah berfirman :

k.      “ Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.”(QS. Al-A’raaf: 205)
-Dalil dari as-Sunnah adalah sabda Rasulullah saw.,

“Sesungguhnya bila diatas bumi ini ada seorang muslim yang menyeru kepada kebaikan, niscaya Allah mengabulkan baginya akan ajakanya tersebut atau Allah akan menghilangkan darinya keburukan yang diakibatkannya selama ia tidak mengajak (dakwah) untuk berbuat dosa atau memutuskan silaturahmi.”(HR. Tirmidzi)



10 cara penting yang dapat kamu lakukan untuk meningkatkan prestasi di sekolah:
1.
Jadilah seorang pemimpin. Latihlah rasa tanggung jawabmu.
Apabila guru meminta bantuanmu untuk mengerjakan sesuatu misalnya membersihkan kelas, jangan ragu untuk menerimanya. Ajak beberapa teman kelas dan pimpin mereka untuk membersihkan kelas bersama-sama.
2.
Mendengarkan penjelasan guru dengan baik.
Jawablah setiap pertanyaan yang diajukan oleh guru apabila kamu mengetahui jawabannya. Jangan menunggu guru untuk memanggil kamu untuk menjawab pertanyaan.
3.
Jangan malu untuk bertanya.
Selalu ajukan pertanyaan kepada guru apabila tidak mengerti tentang sesuatu hal.
4.
Kerjakan PR dengan baik, jangan selalu mencari alasan untuk tidak mengerjakannya.
Jangan malas mengerjakan PR dengan alasan lupa atau menunda-nunda mengerjakannya. Enak kan kalau kita cepat mengerjakan PR, jadi masih punya banyak waktu untuk bermain dan nonton TV deh!
5.
Setiap pulang dari sekolah, selalu mengulang pelajaran yang tadi diajarkan.
Nanti sewaktu ada ulangan jadi tidak banyak yang harus dipelajari! Asyik!
6.
Cukup istirahat, makan dan bermain.
Semuanya dilakukan secara berimbang. Setelah pulang sekolah, kita sering ingin cepat-cepat bermain dan melupakan segala hal penting lainnya, contohnya makan dan istirahat. Padahal setelah seharian di sekolah, tak terasa badan kita membutuhkan masukan energi tambahan yang bisa didapatkan dari istirahat dan makanan yang kita makan. Oleh karenanya kita harus dapat membagi waktu untuk makan, istirahat dan bermain. Kalau semuanya dilakukan dengan baik, badan jadi segar setiap hari! Jadi tidak sering mengantuk di kelas!
7.
Banyak berlatih pelajaran yang kurang disuka.
Apabila kamu tidak menyenangi suatu mata pelajaran, contohnya matematika, maka banyak-banyaklah berlatih, mengikuti kursus atau belajar berkelompok dengan teman. Sehabis belajar bisa bermain dan menambah teman baru di tempat kursus. Selain itu, siapa tahu dari kurang menyukai matematika, kalian malahan menyukainya.
8.
Ikutilah kegiatan ektrakurikuler yang kamu senangi.
Cari tahu kegiatan apa yang cocok dan kamu suka. Contohnya apabila kalian suka pelajaran tae kwon do, cobalah untuk mengikuti kursus dari kegiatan tersebut, sehingga selain belajar pelajaran-pelajaran yang diajarkan di sekolah, kalian juga dapat mendapatkan pelajaran tambahan di luar sekolah.
9.
Cari seorang pembimbing yang baik.
Orangtua adalah pembimbing yang terbaik selain guru. Apabila ada yang kurang jelas dari keterangan guru di sekolah, kalian dapat menanyakan hal tersebut kepada orang tua. Selain itu, kalian juga dapat belajar dari teman yang berprestasi.
10.
Jangan suka mencontek teman.
Kalau mencontek, kamu bisa bodoh karena tidak berpikir sendiri. Lagipula belum tentu, teman yang kamu contek itu menjawab pertanyaan dengan benar. Belum lagi kalau ketahuan guru dan teman lain, malu kan? Kalau kamu rajin belajar, pasti bisa menjawab semua pertanyaan dengan benar sehingga ulangan dapat nilai baik.



DAFTAR PUSTAKA
Adrian Ashman, and John Elkins. (1994). Educating Children with Special Needs. Australia: Prentice Hall
Amin, Moh. (1995). Ortopedagogik tunagrahita. Jakarta: Direktorat PendidikanTinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Depdiknas. (2006). Program Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa 2006. Jakarta:  Direktorat PSLB.
Hallahan & Kauffman. (1988). Exceptional Children. Introduction to special education. New Yersey: Prentice Hall International, Inc.
Kirk, S.A. & Gallagher, J.J. (1989). Educating exceptional children. Boston: Hougton Miffin Company.
Peraturan Pemerintah RI No. 43 Tahun 1998 tentang Upaya Kesejahteraan Sosial Penyandang Cacat
Sunardi. (TT). Kecenderungan dalam pendidikan luar biasa. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Departemen Pendidikan dan Pendidikan.








[1]Muhibbin Syah. 2013. Psikologi Pendidikan.Bandung: PT REMAJA ROSDAKARYA. Hal.139
[2] Richard Tardif. 1987. The Penguin Macquarie Dictionary of Australian Education. Australia: Ringwood Victoria: Penguin Books Ltd.
http://www.kaskus.co.id/

1 komentar:

  1. Lucky Club - Casino Site | LuckyClub.live
    Lucky Club. Casino Site, Lucky Club, Lucky Club, luckyclub.live Lucky Club, Lucky Club. 2021-11-03, 10:00 AM.

    BalasHapus